Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

REVIEW : PRISONERS


"Pray for the best, but prepare for the worst." Keller

Natal tiba lebih awal! ... yah, setidaknya itu bagi para penikmat film di Indonesia yang tengah dimanjakan oleh grup 21 dengan sederetan film berkualitas di atas rata-rata kontender awal peraih Oscars pada bulan Oktober yang biasanya kering kerontang. Usai Rush dan Gravity, sekarang hadir Prisoners. Ini adalah film Hollywood perdana olahan Denis Villeneuve, sutradara asal Kanada yang mendadak naik daun setelah Incendies dianugerahi nominasi Best Foreign Language Film di Oscars 2011 dan menempati top 10 list versi kritikus serta moviegoers berbagai negara. Demi mengulang kejayaan seperti yang diraihnya melalui Incendies, tuturan yang diberlakukan di Prisoners pun tidak jauh berbeda. Hanya saja, kali ini memeroleh dukungan dari ensemble cast yang pastinya menarik perhatian dan tone film dibawa lebih kelam, suram serta dingin a la neo-noir yang membuatnya sulit untuk tidak dibandingkan dengan garapan David Fincher. Sekalipun, pada akhirnya, hasil akhir tidak sedahsyat film yang melambungkan nama si pembuat film, Prisoners tetaplah merupakan sebuah film crime-thriller kelas wahid yang akan membuat emosi Anda terkoyak-koyak kala dan usai menyaksikannya. 

Merentang panjang hingga mencapai 153 menit, guliran kisah yang beranjak dari skrip rancangan Aaron Guzikowski menyoroti pada duka dua keluarga dari sebuah kota di wilayah Pennsylvania. Perayaan Thanksgiving yang seharusnya diliputi kebahagiaan sontak berubah muram tatkala dua kepala keluarga, Keller Dover (Hugh Jackman) dan Franklin Birch (Terrence Howard), mendapati anak perempuan mereka yang masih kecil raib. Dengan segera, kepanikan pun melanda. Detektif Loki (Jake Gyllenhaal) yang memiliki jejak rekam mengesankan dalam karirnya, turun tangan untuk memecahkan kasus ini. Menghimpun keterangan dari keluarga Dover dan Birch, penyelidikan menuntun Loki pada Alex Jones (Paul Dano), pemuda dengan mental terbelakang yang mengendarai sebuah RV yang dicurigai berkaitan dengan lenyapnya para gadis cilik. Akan tetapi, setelah belasan jam proses interogasi berlangsung dan penelusuran barang bukti, kecil kemungkinan Alex dapat didakwa bersalah. Dengan lolosnya Alex yang kala itu menjadi tersangka utama, Keller pun kebakaran jenggot. Dia menganggap kinerja polisi lambat terlebih tidak ada kemajuan di dalam penyelidikan. Lantaran kecewa, Keller pun memutuskan untuk turut menguak kasus dengan caranya sendiri. 

Tanpa perlu berpanjang lebar dalam menghantarkan kisah, Prisoners langsung menggebrak hanya beberapa menit setelah pembukaan dimana para tokoh utama bersuka cita merayakan Thanksgiving. Suasana yang semula ceria, dengan cepat berbalik menjadi suram setelah tragedi berlangsung. Semuanya berlangsung secara cepat, secara mendadak, tanpa ada persiapan. Penonton dibawa pada kebingungan dan kegundahan yang sama dengan apa yang dialami oleh para tokoh utama yang direfleksikan dengan sangat sempurna melalui tone yang senantiasa kelam berpadu cuaca kelabu dimana hawa dingin menusuk tulang. Emosi yang telah bercampur aduk kian menjadi-jadi tatkala mendapati bahwa Alex Jones, tersangka utama (dan satu-satunya), tidak dapat dijerat hukum lantaran minim bukti. Pertanyaan demi pertanyaan mengemuka dan rasa penasaran pun berkecamuk di dada, “dengan lepasnya Alex, lantas apa yang akan dilakukan oleh Denis Villeneuve kemudian? Adakah kejutan yang menanti di depan?” 

Bagusnya, si pembuat film tidak ingin membuat penontonnya kebingungan, mengerutkan dahi, atau malah menjadi sok pintar dengan mencecer petunjuk demi petunjuk untuk dibangun sendiri. Denis dan Aaron sengaja membiarkan jalinan kisah mengalir apa adanya, mengajak penonton untuk ‘menikmati’ proses dari penyelidikan yang dilakukan secara berbeda oleh Loki dan Keller. Mereka ingin penonton merasakan emosi dari setiap tokoh dari film ini; kehilangan orang yang dikasihi, pertemuan dengan jalan buntu, perasaan tak berdaya, pertentangan batin, lenyapnya iman, hingga keputusasaan. Para tokoh pun sengaja ditempatkan di area abu-abu (protagonis sekalipun!) sehingga rasa simpati pun akan datang dan pergi, tak pernah benar-benar berdiam diri pada tokoh tertentu. Pertanyaan lain yang lantas mengemuka seiring dengan semakin dalamnya Denis mengajak Anda menyelam adalah... “apakah Anda akan melakukan atau membenarkan tindakan yang dilakukan oleh Keller apabila Anda berada dalam posisi yang sama persis dengan dia?” 

Inilah yang membuat Prisoners menjadi sebuah film crime-thriller yang tangguh dan terasa istimewa. Apabila Anda jeli atau telah terbiasa menyimak serial yang berada di ranah kriminal, maka sesungguhnya tak sulit untuk menebak si dalang. Namun rasa-rasanya bukan itu yang Denis Villeneuve mau. Dia tak ingin sekadar mengajak penonton untuk mengungkap tabir misteri yang melingkupi, namun turut menghadapkan kita pada studi karakter dan permainan emosi yang begitu mengasyikkan untuk disimak. Dengan dukungan ensemble cast yang powerful – Hugh Jackman dalam peran terbaiknya sebagai seorang ayah yang putus asa dan rela melakukan apapun demi menyelamatkan putri tercintanya, Jake Gyllenhaal yang sungguh luar biasa meyakinkan sebagai detektif berprestasi gemilang yang kesulitan mengurai benang kusut penyelidikan, Paul Dano hidup dalam peran sebagai remaja terbelakang yang dicurigai sebagai pelaku penculikan, dan Terrence Howard, Viola Davis, Maria Bello, serta Melissa Leo yang tak kalah gemilangnya di peran masing-masing – dipadukan dengan sinematografi yang menakjubkan dari Roger A. Deakins serta skoring musik yang menawan gubahan Johann Johannsson, Prisoners pun melaju sebagai salah satu buah karya terbaik tahun ini. Mengguncang emosi, menyesakkan dada, mencekam, menghantui, mengganggu, dan memesona.

Outstanding



Post a Comment for "REVIEW : PRISONERS"